Jumat, 17 Agustus 2012

5 Pelajaran Seputar Pengobatan dan Penyakit


Pelajaran pertama: Obat Rohani

Ibnu at-Tin mengatakan, “Ruqyah dengan mu’awidzat (Surat al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Nas) dan nama-nama AllahSubhanahu wa Ta’ala adalah obat rohani. Jika obat ini dibaca oleh lisan orang yang bertakwa maka dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala kesembuhan akan terwujud. Tatkala manusia semacam itu sulit ditemukan maka banyak orang lantas menggunakan obat jasmani.”

Pelajaran Kedua: Sembuh Karena Sugesti

Ibnu Utsaimin mengatakan, “Obat adalah sebab datangnya kesembuhan dan sebab itu ada dua macam. Pertama, sebab kesembuhan yang berdasarkan syariat semisal dengan membaca Alquran dan doa. Kedua, sebab kesembuhan berdasarkan realita semisal obat-obatan berupa materi-materi tertentu yang boleh jadi diketahui melalui jalan syariat –semisal madu- atau diketahui kegunaannya berdasarkan pengalaman empirik semisal umumnya obat-obatan.
Untuk obat yang diketahui dari percobaan empirik, pengaruh obat tersebut harus berupa pengaruh langsung, bukan pengaruh karena imajinasi dan anggapan semata (baca: sugesti). Jika suatu materi itu diketahui memiliki pengaruh langsung yang empirik pada penyakit, maka materi tersebut bisa dijadikan sebagai obat yang akan mendatangkan kesembuhan dengan seizin Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Jika pengaruh materi obat tersebut hanya semata anggapan dan imajinasi pasien sehingga setelah mendapatkan pengobatan tersebut pasien merasakan lega dikarenakan anggapan yang sudah ada sebelumnya lalu rasa sakit berkurang atau bahkan obat tersebut menyebabkan kenyamanan jiwa sehingga menyebabkan penyakit hilang secara total, maka hal ini tidak bisa dijadikan sebagai tolok ukur. Kondisi tidak bisa dijadikan sebagai alasan untuk meyakini bahwa materi tersebut memang benar-benar obat. Manusia tidak boleh larut dalam anggapan dan imajinasi semata.”

Pelajaran Ketiga: Bolehkah Kalimat, ‘Dokter Itu Menyembuhkan?’

Ath-Thibi mengatakan, “Jika Anda bertanya bagaimana cara mengompromikan hadis ini (yaitu hadis yang menunjukkan bahwa anggota badan manusia itu mengikuti lisan, Pent.) dengan hadis Nabi ‘Ingalah bahwa di dalam tubuh itu ada sekerat daging. Jika ia baik maka seluruh badan akan baik. Jika ia rusak maka seluruh badan akan ursak. Itulah hati’ (HR. Bukhari ni. 52 dan Muslim no.1599 dari an-Nu’man bin Basyir)? Jawabanku adalah bahwa lisan merupakan penerjemah hati dan wakil hati untuk anggota badan yang lahirian. Maka jika dikatakan anggota badan yang lain maka itu adalah sekadar ungkap majaz, (kata kiasan) sebagaimana kalimat, ‘Dokter itu menyembuhkan pasien’,”

Pelajaran Keempat: Khusus Kurma Ajwah?

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin mengatakan, “Jika seorang yang akan berangkat shalat Idul Fitri itu memakan tujuh butir kurma, maka itu adalah suatu hal yang baik mengingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Barangsiapa pagi-pagi memakan tujuh butir kurma dari daerah Aliyah –dalam redaksi yang lain: ‘tujuh butir kurma ajwah’-, maka pada hari itu dia tidak akan terkena racun dan sihir.’ (HR. Bukhari no. 5445 dan Muslim no. 155 dari Sa’ad bin Abi Waqqash)
Subhanallah, perlindungan dan penjagaan dengan sebab tujuh kurma dari daerah Aliyah –nama suatu tempat di kota Madinah- atau tujuh butir kurma ajwah. Bahkan guru kami Ibnu Sa’di berpandangan bahwa kurma daerah Aliyah atau kurma ajwah adalah sekadar contoh karena yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maksudkan adalah semua jenis kurma. Berdasarkan pendapat ini seorang itu bisa berpagi-pagi pada setiap harinya memakan tujuh butir kurma dari jenis apa pun.”
Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Siapa saja yang setiap hari berpagi-pagi memakan tujuh butir kurma ajwah maka sihir dan racun tidak akan membahaykannya sejak pagi itu hingga malam tiba’.” Menurut versi perawi lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Tujuh butir kurma.” (HR. Bukhari no. 5435)
Boleh jadi ungkapan “tujuh butir kurma” yang tidak mensyaratkan harus ajwah adalah dasar pijakan Ibnu Sa’di yang juga disetujui oleh Ibnu Utsaimin untuk mengatakan bahwa keutamaan di atas berlaku untuk semua jenis kurma.

Pelajaran Kelima: Upah Bekam

Syaikh Abdullah Aba Buthain mengatakan, “Yang dimaksud dengan upah tukang bekam adalah upah yang diambil oleh tukang bekam karena membekam. Sedangkan pemberian yang diberikan kepada tukang bekam tanpa ada kesepakatan di depan, maka hukumnya diperbolehkan oleh sebagian ulama karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi sesuatu kepada orang yang membekam beliau.
Sebagian ulama mengatakan bahwa seandainya upah untuk tukang bekam itu haram, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memberikan sesuatu kepadanya. Menurut mereka, hadis yang melarang upah bekam itu hanya berlaku jika besaran upah ditentukan di muka.”
Oleh: Ustadz Aris Munandar
Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 6 Tahun Kesebelas 1433 H/2012 M

Kamis, 16 Agustus 2012

Kemdikbud Akan Berlakukan Diklat Online


JAKARTA - Dari hasil uji kompetensi guru (UKG) yang sedang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) akan diketahui peta kompetensi para guru. Guru yang masih belum memenuhi standar kompetensi, wajib mengikuti diklat.
Diklat setelah UKG itu rencananya akan dilaksanakan pada pertengahan tahun 2013. "Sekarang baru kita rancang, kita akan gelar diklat pada 2013 berdasarkan hasil UKG 2012," ungkap Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia.


Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Kemdikbud Syawal Gultom, setelah rapat kerja (raker) dengan Komisi X DPR RI, di Gedung DPR Jakarta, kemarin. Menurutnya, dari analisis hasil UKG dapat diketahui mana saja yang akan menjadi prioritas untuk dikembangkan.
Dia mengaku akan mengutamakan diklat bagi guru yang kompetensi dan kemampuannya masih di bawah rata-rata.
"Tujuannya, kita harus mengantarkan mereka sampai memenuhi persyaratan kualitas," kata Syawal.

Sistem Online

Diklat tersebut kelak juga akan menggunakan sistem online. Akan tetapi, daerah yang masih mengalami gangguan jaringan tetap akan menggunakan sistem manual, yaitu tatap muka.
�Sistemnya ada online, ada modul, dan ada yang tatap muka. Dengan sistem online, kita hanya memantau dengan sistem jaringan. Kita upload materi, kita tentukan guru yang wajib mengikuti diklat online dan kita pantau,� ujar mantan Rektor Universitas Negeri Medan itu.

Dijelaskan, diklat online tersebut tetap menggunakan evaluasi. �Ujian dan evaluasinya bisa satu paket dengan diklat online, ada modul dan ada evaluasi tersendiri,� terang Syawal. Sementara itu, anggota Komisi X dari Fraksi PKS, Raihan Iskandar, berharap pemerintah mau mempersiapkan pelatihan dan pembinaan setelah UKGsecara serius.
�Dengan UKG pemerintah akan membuat pemetaan kompetensi para guru, kemudian pemerintah harus mempersiapkan pelatihan sehingga kualitas guru yang masih di bawah standar dapat ditingkatkan. Paling tidak, menjadi standar minimal,� harapnya.
Diupload oleh : ans (-) | Kategori: Berita Koran Pendidikan | Tanggal: 08-08-2012 00:00

Guilty


The End of Guilt

  •  COMMENTS (4)
  • LOG IN TO VOTE: rating_stars
Do you know that is completely possible to heal your guilt? I did it and so can you!
I grew up in a family that constantly used guilt as a form of control. Sometimes the guilt was somewhat subtle, such as "Fine, do what you want," said with a blaming tone. Other times it was blatant, such as my grandmother (who lived with us) saying to me, whenever I didn't do what she wanted, "How can you do this to me? You are so selfish."

As an adolescent, if I came home five minutes after my curfew, I would hear my mother hissing at me from their bedroom as I tried to tiptoe into my room, her voice dripping with anger, "You're late again. You know I worry about you." My mother had many ways of making me responsible for her feelings - from her intense anger to her victim tears. I was always to blame.

Even though I started earning my own money when I was 14, my father would frequently guilt me if I bought an article of clothing or a pair of earrings that he didn't think I needed. My parents lived through the depression and it left them with huge scars. While my father did fairly well and was able to retire at age 56, he never learned to spend anything other than what was absolutely necessary. And he wanted me to be just as scared and frugal as he was. He'd look at me with narrow eyes and say with knife-like disapproval, "Was it REALLY necessary to buy that? Don't you think you are going a bit overboard?"

I grew up believing that anytime someone was upset with me, it was my fault. All someone had to do was be hurt or upset and I would immediately feel guilty, certain that I had done something wrong. Of course, this continued in my marriage. It did not take my husband long to figure out that all he had to do was give me a disapproving look or go into angry withdrawal and I would feel guilty and responsible for his feelings. Then I would scurry around trying to fix whatever it was I did wrong.

Even before I started practicing Inner Bonding, I knew in my mind that everyone's upset was not my fault. But I didn't know how to move beyond the feelings of guilt that would overwhelm me.  I understood the concept that I was not responsible for others' feelings, but since I didn't understand how to take responsibility for my own feelings, I didn't know how to heal the guilt.

Guilt and shame are no longer feelings that I struggle with, which is so amazing to me! Through my Inner Bonding practice, I've learned to let go of the controlling belief that I cause others' wounded feelings. I now know that I am a good person. I know that I would never consciously do anything to harm anyone and that being loving to myself and others is my highest priority.  Now I can care about others' feelings and feel deep compassion for them, without taking them on as my responsibility. What a relief!

I no longer allow my wounded self to guilt me into doing things that someone else wants me to do, but that I don’t want to do. If I inadvertently do something that hurts another, I feel sad and remorseful, and I apologize sincerely. But I do not feel guilty, because I know that I never intend to hurt others. I consistently turn to my Guidance for information regarding what I am and am not responsible for - no longer allowing my programmed wounded self to determine this.

I want you to know that you can heal your guilt and shame. I did it and so can you!

Wa Salam Alaikum

Yang Kuasa Memberkati.