Baru-baru ini jilbab telah menjadi trend masyarakat indonesia khususnya kaum hawa. Dari mereka ada yang rela mengeluarkan isi dompet untuk memperdalam ilmu mempercantik diri dengan jilbab. Namun, apakah mereka tahu aturan-aturan berjilbab yang sesungguhnya? Karena, tidak semua pemakai jilbab telah benar-benar menutup aurot sehingga terhindar dari dosa.
Ada beberapa gaya berjilbab yang justru menambah koleksi dosa bagi pemakai jilbab tersebut.
1. Jilbab dengan bahan tipis bahkan transparan
Memakai jilbab dengan bahan yang tipis memang terlihat modis. Dan bahan ini sangat cocok bagi paramuslimah yang berada di daerah yang panas. Sehingga rasa panas tidak begitu membunuh mereka. Namun, jilbab dengan bahan inilah yang justru membuat dosa. Rosulullah SAW menyebut hal seperti ini dengan sebutan "berpakaian tapi telanjang".
2. Jilbab ketat
Muslimah diwajibkan memakai jilbab bertujuan agar menutupi kulit serta lekuk tubuh yang menggoda para kaum adam. Namun, baru-baru ini para muslimah seakan-akan mengacuhkan ketentuan berjilbab tersebut. Mereka memang berjilbab sesuai perintah, tetapi lekuk-lekuk tubuh mereka masih saja terlihat. Bahkan sebagian dari muslimah tersebut berjilbab hanya untuk menonjolkan lekuk tubuh mereka. Hal seperti inilah yang menambah isi dompet dosa mereka.
3. Jilbab yang mirip pakaian lelaki
Celana jeans dan kaos lengan panjang adalah identik pakaian laki-laki. Pakaian-pakaian tersebut tidak jarang juga dipakai oleh para muslimah. Walaupun mereka memakai kerudung, namun kerudungnya tidak menjuntai hingga dada. Terlebih lagi dipadu dengan kaos lengan panjang serta celana jeans. Seperti seorang laki-laki yang memakai kerudung. Gaya seperti ini tidak boleh dirpaktekkan oleh para muslimah. Karena gaya seperti ini adalah dosa bagi para muslimah. Seperti yang tertera dalam Al-Qur'an surat An Nuur ayat 31.
4. Jilbab yang menyerupai wanita
Jaman memang sudah berkembang, begitu juga dengan model-model berbusana. Namun, peraturan tidak lah berubah sedikitpun. Begitu halnya peraturan berlilbab. Para muslimah hendaknya benar-benar mengetahui bagaimana tata cara berjilbab yang benar. Karena, hal yang paling membuat dosa adalah salah pengertiantentang berjilbab. Sebagai contoh apabila mereka berjilbab tetapi membuat seperti wanita kafir. Seperti berkerudung namun pahanya masih jelas terlihat, berjilbab namun dada tetap dipamerkan. Dengan demikian, berjilbab justru membuat mereka semakin berdosa saja. Jadi, pelajarilah peraturan-peraturannya terlebih dahulu sebelum bertindak.
Pengembaraan Tiada Bertepi. Abdul Aziz Zarkasi and Co. Mari berbagi, Harta yang kamu infaqkan itulah milikmu yang sesungguhnya
Jumat, 28 September 2012
Selasa, 25 September 2012
How are you to day
Apa kabar dunia, aku berharap pada mu.
kemana air mengalir sebenarnya pertanyaan yang naif. tapi nyatanya kemana air mengalir sama sekali tak jelas bisa ke atas kebawah kekanan ke kiri. ke sawah ke rumah tangga kemana saja sampai airnya bingung dan habis. Maka habis lah manusia
Berhati-hatilah dengan air, apa lagi dengan air yang tersimpan kokoh di antara sulbi wa tarooib.
kemana air mengalir sebenarnya pertanyaan yang naif. tapi nyatanya kemana air mengalir sama sekali tak jelas bisa ke atas kebawah kekanan ke kiri. ke sawah ke rumah tangga kemana saja sampai airnya bingung dan habis. Maka habis lah manusia
Berhati-hatilah dengan air, apa lagi dengan air yang tersimpan kokoh di antara sulbi wa tarooib.
Sabtu, 22 September 2012
Pelajaran pertama: Obat Rohani
Ibnu at-Tin mengatakan, “Ruqyah dengan mu’awidzat (Surat al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Nas) dan nama-nama AllahSubhanahu wa Ta’ala adalah obat rohani. Jika obat ini dibaca oleh lisan orang yang bertakwa maka dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala kesembuhan akan terwujud. Tatkala manusia semacam itu sulit ditemukan maka banyak orang lantas menggunakan obat jasmani.”
Pelajaran Kedua: Sembuh Karena Sugesti
Ibnu Utsaimin mengatakan, “Obat adalah sebab datangnya kesembuhan dan sebab itu ada dua macam. Pertama, sebab kesembuhan yang berdasarkan syariat semisal dengan membaca Alquran dan doa. Kedua, sebab kesembuhan berdasarkan realita semisal obat-obatan berupa materi-materi tertentu yang boleh jadi diketahui melalui jalan syariat –semisal madu- atau diketahui kegunaannya berdasarkan pengalaman empirik semisal umumnya obat-obatan.
Untuk obat yang diketahui dari percobaan empirik, pengaruh obat tersebut harus berupa pengaruh langsung, bukan pengaruh karena imajinasi dan anggapan semata (baca: sugesti). Jika suatu materi itu diketahui memiliki pengaruh langsung yang empirik pada penyakit, maka materi tersebut bisa dijadikan sebagai obat yang akan mendatangkan kesembuhan dengan seizin Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Jika pengaruh materi obat tersebut hanya semata anggapan dan imajinasi pasien sehingga setelah mendapatkan pengobatan tersebut pasien merasakan lega dikarenakan anggapan yang sudah ada sebelumnya lalu rasa sakit berkurang atau bahkan obat tersebut menyebabkan kenyamanan jiwa sehingga menyebabkan penyakit hilang secara total, maka hal ini tidak bisa dijadikan sebagai tolok ukur. Kondisi tidak bisa dijadikan sebagai alasan untuk meyakini bahwa materi tersebut memang benar-benar obat. Manusia tidak boleh larut dalam anggapan dan imajinasi semata.”
Pelajaran Ketiga: Bolehkah Kalimat, ‘Dokter Itu Menyembuhkan?’
Ath-Thibi mengatakan, “Jika Anda bertanya bagaimana cara mengompromikan hadis ini (yaitu hadis yang menunjukkan bahwa anggota badan manusia itu mengikuti lisan, Pent.) dengan hadis Nabi ‘Ingalah bahwa di dalam tubuh itu ada sekerat daging. Jika ia baik maka seluruh badan akan baik. Jika ia rusak maka seluruh badan akan ursak. Itulah hati’ (HR. Bukhari ni. 52 dan Muslim no.1599 dari an-Nu’man bin Basyir)? Jawabanku adalah bahwa lisan merupakan penerjemah hati dan wakil hati untuk anggota badan yang lahirian. Maka jika dikatakan anggota badan yang lain maka itu adalah sekadar ungkap majaz, (kata kiasan) sebagaimana kalimat, ‘Dokter itu menyembuhkan pasien’,”
Pelajaran Keempat: Khusus Kurma Ajwah?
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin mengatakan, “Jika seorang yang akan berangkat shalat Idul Fitri itu memakan tujuh butir kurma, maka itu adalah suatu hal yang baik mengingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Barangsiapa pagi-pagi memakan tujuh butir kurma dari daerah Aliyah –dalam redaksi yang lain: ‘tujuh butir kurma ajwah’-, maka pada hari itu dia tidak akan terkena racun dan sihir.’ (HR. Bukhari no. 5445 dan Muslim no. 155 dari Sa’ad bin Abi Waqqash)
Subhanallah, perlindungan dan penjagaan dengan sebab tujuh kurma dari daerah Aliyah –nama suatu tempat di kota Madinah- atau tujuh butir kurma ajwah. Bahkan guru kami Ibnu Sa’di berpandangan bahwa kurma daerah Aliyah atau kurma ajwah adalah sekadar contoh karena yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maksudkan adalah semua jenis kurma. Berdasarkan pendapat ini seorang itu bisa berpagi-pagi pada setiap harinya memakan tujuh butir kurma dari jenis apa pun.”
Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Siapa saja yang setiap hari berpagi-pagi memakan tujuh butir kurma ajwah maka sihir dan racun tidak akan membahaykannya sejak pagi itu hingga malam tiba’.” Menurut versi perawi lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Tujuh butir kurma.” (HR. Bukhari no. 5435)
Boleh jadi ungkapan “tujuh butir kurma” yang tidak mensyaratkan harus ajwah adalah dasar pijakan Ibnu Sa’di yang juga disetujui oleh Ibnu Utsaimin untuk mengatakan bahwa keutamaan di atas berlaku untuk semua jenis kurma.
Pelajaran Kelima: Upah Bekam
Syaikh Abdullah Aba Buthain mengatakan, “Yang dimaksud dengan upah tukang bekam adalah upah yang diambil oleh tukang bekam karena membekam. Sedangkan pemberian yang diberikan kepada tukang bekam tanpa ada kesepakatan di depan, maka hukumnya diperbolehkan oleh sebagian ulama karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi sesuatu kepada orang yang membekam beliau.
Sebagian ulama mengatakan bahwa seandainya upah untuk tukang bekam itu haram, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memberikan sesuatu kepadanya. Menurut mereka, hadis yang melarang upah bekam itu hanya berlaku jika besaran upah ditentukan di muka.”
Oleh: Ustadz Aris Munandar
Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 6 Tahun Kesebelas 1433 H/2012 M
Langganan:
Postingan (Atom)
Wa Salam Alaikum
Yang Kuasa Memberkati.